Senin, 21 Mei 2012

jiwa hitam bukan berarti sesat


Salam \m/
Suara deru distorsi gitar nan lembut kian mengeras dan kemudian disusul hentakan double pedal yang bertempo sangat cepat.Sering pula dibarengi suara piano yang semakin menyayat hati.Ini adalah pembukaan yang menenangkan dan megah dan sebagai musik memudar keluar dan memudar angin dalam lagi.
Sekali lagi aku terpesona. Aku, seperti dianggap orang tak waras,mereka menganggapnya sebagai sedikit lelucon, terutama dalam konteks dari band-band metal terutama Black Metal.Lirik yang pedas,musik yang cadas,aksi panggung yang memang sengaja dibuat untuk menambah kesakralan,hanya agar mendapat suatu integritas dari para audience sebagai kaum pemuja setan yang anti Tuhan dan lain sebagainya.
Benarkah demikian??Berati aku salah arah dan salah...
Tidak demikian!Ini adalah seni,dimana aliran black metal terbukti membuat lagu tidak asal-asalan.Mereka tetap mempertahankan estetika dalam bermusik. Catatan ini telah sepenuhnya menghancurkan ilusiku dan menyadari bahwa ada keindahan dan seni di black metal.
Jeritan dan teriakan,disertai dengan hentakan musik yang sangat keras dengan aransemen nada yang pas dan dalam.Suara sebagai impuls yang diterima oleh reseptor dan disampaikan ke efektor akan meneruskan perintah ke saraf sensorik dan menuju ke otak untuk diteruskan saraf motorik kemudian ke efektor jantung.Sehingga benar-benar bisa membuat jantung kita berdebar-debar.Dari sinilah tanpa sadar jiwa kita seperti menerima suatu sensasi yang indah dan terasa menyenangkan seakan ingin mengulang dan mengulangnya kembali.Tak ada suara yang lebih indah dari suara tersebut,sampai kita membuat statemen ”Tak ada yang lebih bagus dari musik Black Metal”.
Itulah mengapa kita cenderung mencintai apa yang telah membuat kita senang.Semakin lama kita meniru gaya berpakaian hingga keinginan untuk menjadi tokoh yang kita idolakan.
Pakaian serba hitam itu identik dengan musisi Black Metal,segalanya hitam dan aku cinta warna hitam seolah jiwa dan hati ku sudah hitam dan gelap..its okay!itu opini dari orang yang menilai diriku.Mereka tak tau apa yang ada dibenakku.Disini aku hanya mencintai musik,masalah kepercayaan dan agama itu urusanku.Tau apa mereka tentang hubungan pribadi seseorang dengan Tuhannya.
Selain itu aku juga ingin mengintegritaskan diriku,agar aku tak dianggap seperti orang lain yang mayoritas.AKU BEDA!Kalimat itulah yang ingin kusampaikan jika ada orang yang menganggapku sama saja dengan orang mayoritas.
Bagi yang merasa prihatin :
Aku hanyalah satu dari jutaan nyawa yang sama-sama mencintai Black Metal.Ada bebrapa hal yang sangat menggangguku,dari suasana dan perasaan.Dimana ada beberapa kalangan Black Metalist junior malah menggembor-gemborkan bahwa mereka anti Tuhan,pemuja setan dan lain sebagainya,hal ini kontan membuat orang luar akan semakin tidak menyukai keberadaan kita,apalagi di Indonesia sebagai negara beragama.Sangat riskan,berbahaya,ini masalah serius yang ujung-ujungnya sampai ke pemerintah.Orang-orang dan Pemerintah akan menganggap musik  Underground itu terlarang.Sehingga kita sangat kesulitan mendapati konser-konser musik underground yang salah satunya adalah aliran Black Metal.Entah itu alasan perijinan,alasan keamanan,alasan bla..bla..bla..,ini jelas kita sudah dipersulit.Padahal kita sangat merindukan event-event tersebut.
Maka dari itu,sodaraku sedarah..
Jaga perilaku kita,mari kita bersama-sama menjaga scene agar tetap baik dimata semua orang.Agar bisa berjalan seiringan dengan yang lain.
Sekali lagi kita bukan sesat,kita punya keyakinan beragama ini adalah tentang seni dalam bermusik..

Nalika sumebyar pecahing prahara
Ajuring dada sumubing ludira
Gumregeting ati kang jiwa kacongkrah
Nggadahi pangajap manunggaling cipta

Awak sira pada sajroning ireng
Bancanglaku pinuju tunggal ing dalan peteng
Tanpa bedo sapa lan jeneng
Lir gumanti sih bakal bisa langgeng

Nanging tansah eling kabecikan,amarga kabecikan ajaran saka Pangeran

Sumpah iki wus manjing tekaning sukmo
Nlgampahi laku pangocaping lathi
Nganti tekan pegat budhaling nyawa/jejeg adeg
Ajuring salira dumugi ing pati.

Sanajan satemah nandang prahara - - - - - -continued
Waja Cemeng tansah nyekar,nyekar mangayu aruming jagad.